Bogor | economicnews.id – Resto Oriental Warung Hijau di Perumahan Griya Bukit Jaya, Gunung Putri, Bogor, telah kesohor sejak berdiri tahun 2008. Rentang waktu yang tidak mudah bagi sebuah usaha kuliner untuk dapat eksis dan mampu bertahan ditengah kompetisi pesaing dan pendatang baru.

Adji Wahono (74), Pemiliki Warung Hijau telah kenyang makan asam garam  selama 18 tahun mengelola usaha kuliner.  Seperti apa rahasia suksesnya?

“Ya pastinya tidak mudah. Butuh ketekunan dan kerja keras, itu pasti. Selebihnya kita harus bisa mengiklaskan sesuatu yang pahit meskipun tetap mengelus dada.  Bagaimana bisa tetap bersyukur di segala situasi termasuk dikala belum untung. Saya kira itu,”ungkap Adji Wahono saat ditemui di restonya, Ruko Pelangi, Griya Bukit Jaya, Bogor, pada Senin, (11/5/26).

Adji mengatakan, usaha resto oriental food dirintis dengan pertimbangan menjadi makanan favorit dan gaya hidup masyarakat saat itu. Selain itu, dirinya memiliki istri bernama Liliana yang dikenal pandai dalam mengola resep masakan oriental.

Legacy perjuangan Pak Elly Triadji Wahono, nama lengkapnya, pun dimulai dari nol berkat peran besar Liliana. Dara pujaan asal Rangkas Bitung, berdarah Tionghoa yang dikenal mumpuni dalam tata kelola resto, maupun rasa disetiap masakan.

“Dari tangan belilaulah –Sang Master Cheft–  tersaji aneka jenis menu berselera oriental  tersaji. Seperti Sapo Tahu, Cap Cay, Sapi Lada Hitam, Fuyunghay, Gurami Asem Manis, Sop Ikan, Cumi Goreng Tepung, Tumis Kangkung Seafood, Ayam Koloke hingga Ayam Bakar, bisa diracik beliau dengan konsisten,” Ujar Pak Adji.

Dalam waktu relatif singkat, dua tahun kemudian, resto kecil di Cicadas, semakin ramai dan memiliki pelanggan tetap. Mereka tidak hanya datang dari karyawan pabrik sekitar, melainkan juga dari manajer dan pimpinan yang berkantor tidak jauh dari kawasan.

“Biasanya mereka yang datang maupun take way melalui Gofood 0812 8184 2458 selalu reques Sapo Tahu atau Capcay cuma dengan Rp25 ribu. Atau Gurame Asam Manis fress digoreng dari hidup dengan harga Rp70 ribu, bisa untuk satu keluarga. Sedangkan Ayam Bakar Solo dengan size jumbo cuman Rp16 ribu saja itu setiap hari selalu habis. Karena harganya masih merakyat seharga kaki lima. Itulah ke-tiga menu paling laris di Warung Hijau hingga sekarang ini,” terang Pak Adji.

Ekspektasi kerja keras mengola rasa dari satu resto di Cicadas, kemudian berkembang hingga Pak Adji  bisa melakukan pengembangan usaha dengan mendirikan tiga cabang baru ditempat lain. Warung Hujau di Ruko Pelangi Q12 No. 6, Griya Bukit Jaya, merupakan cabang Kedua. Sedangkan Cabang ketiga dan keempat lebih ramai, berdiri di Depok dan di Ruko Fresh Mart Kota Wisata, Cibubur.

Dengan tetap menjaga kualitas rasa dari bahan dan bumbu pilihan berkualitas, Warung Hijau kerap menerima pesanan ulang tahun, arisan, buka  puasa, maupun party lain hingga saat ini.

Elly Triaji Wahono

Satu capian yang patut disyukuri. Namun Adji Wahono mengaku usaha kulinernya dapat bertahan sampai hari ini bukan karena  kehebatan dirinya. Melainkan Tuhan lah yang berkenan membuka jalan baginya hingga boleh menjadi saluran berkat bagi belasan karyawan untuk menghidupi keluarganya.

“Semua tidak lepas dari ridho dan perkenanan Tuhan. Sehingga kita semua  dimampukan. Tidak hanya bagi saya dan keluarga, tapi juga bagi kelangsungan hidup karyawan dengan keluarga, anak, istrinya,”ujar Adji Wahono.

Hubungan baik denga karyawan resto, diakui menjadi salah satu kunci kelangsungan membangun usaha kuliner. Prioritas karyawan diutamakan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Selain gaji, mereka disediakan makan dan tempat tinggal layak.

“Supaya meraka focus kerja. Dari pada pulang pergi kampung jauh, keluar ongkos. Mereka semua kami siapkan tempat istirahat layak, makan cukup. Sebisa mungkin gaji bisa tetap utuh. Sehingga ada karyawan saya yang bertahan sejak dari tahun pertama hingga sekarang ini. Coba tanya, namanya Tresno,” pungkas Adji Wahono.