Cibubur | economicnews.id – Sependapat dengan pidato Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, Didi Apriadi selaku Staf Khusus Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM menyatakan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini harus menjadi momentum untuk tindakan nyata. Mengingat kondisi lingkungan saat ini menuntut aktualisasi dalam tindakan nyata berkelanjutan.

“Kita sependapat dengan Menteri LH dan menjadi bagian Program Strategis Nasional (PSN) sebagaimana dicanangkan Bapak Presiden RI Prabowo Subianto, yaitu terciptanya  swasembada pangan, swasembada air, juga swasembada energi. Semua itu dapat dicapai apabila ada gerakan bersama seluruh komponen masyarakat mendukung program strategis pemerintah,” ujar Didi Apriadi ditengah acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Minggu, (14/6/26).

Menurut Didi, salah satu program PSN yang belakangan ini sedang loding dan menjadi konsen dirinya untuk lingkungan dan energy adalah Waste Energy. Bagaimana mengubah sampah organik menjadi energi listrik.

“Program kebijakan pemerintah melalui Danantara ini korelatif dengan swasembada energi sekaligus menjaga lingkungan. Trigernya sudah dimulai di tiga kota, Jakarta/ Bekasi, Surabaya dan Bali dengan target rempung sejak on progres dan diharapkan bisa mulai beroperasi pada 2027 tahun depan,” jelasnya.

Didi yang saat ini turut berkontribusi langsung terhadapat pembangunan waste energy di kota Bandung, Jakarta dan Bali, menegaskan, bahewa perubahan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui program mengolah sampah menjadi listrik memberi dampak dan manfaat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat. Dengan memilah sampah sejak dari sumber tidak hanya berkorelasi langsung dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap listrik hijau dan perubahan iklim.

Staf Khusus Kementerian Investasi & Hilirisasi/ BKPM Didi Apriadi saat mendampingi Walikota Bandung M. Farhan bahas Waste Energy dengan Investor asal Korea Selatan di Pendopo Kantor Walikota Bandung.

Saat ini kota-kota Indonesia menghasilkan sekitar ratusan juta ton sampah setiap tahun. Bandung menghasilkan 19 Ton sampah. Jakarta 32 Ton sampah. Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang sekitar 60 ton xsampah pertahun. Sebagian besar sampah itu masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dalam kondisi tercampur. Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

“Saatnya kita dukung program waste energy pemerintah. Program mengolah sampah jadi listrik secara teknologi, dimana semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah dari sumbernya, semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Pada saat yang sama, beban TPA jauh berkurang, kualitas lingkungan hidup masyarakat dapat ditingkatkan dan membuka banyak lapangan kerja,” tutup Didi.