Surabaya | economicnews.id – Gelaran East Java Investment Forum (EJIF) 2026 yang berlangsung di Hall Grand City, Surabaya, sukses menyedot perhatian berbagai pihak. Forum investasi berskala internasional ini mendapat apresiasi luas dari unsur pemerintah, lembaga keuangan, hingga investor domestik dan mancanegara.
Momentum krusial terjadi pada sesi Ceremony Proceeding Investment Letter in East Java. Dalam sesi ini, para pengusaha dan investor secara resmi menandatangani kesepakatan Letter of Intent (LoI) untuk 11 proyek investasi bernilai total Rp2,4 triliun. Secara keseluruhan, Pemprov Jawa Timur menyodorkan 28 proyek siap tawar (Investment Project Ready to Offer/IPRO) dengan nilai potensi fantastis mencapai Rp73,7 triliun, mencakup sektor manufaktur, pariwisata, infrastruktur, hingga agroindustri.
Penguatan iklim investasi ini dinilai menjadi fondasi utama dalam memacu roda ekonomi regional dan nasional. Terlebih, Jawa Timur saat ini berada di peringkat ketiga penyumbang investasi nasional terbesar setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sinergi dan kolaborasi lintas sektor pun berhasil menopang pertumbuhan ekonomi kawasan hingga menembus angka 5,84 persen pada tahun 2026.
Isu keberlanjutan dan kelayakan investasi turut menjadi fokus pembahasan dalam sesi Panel Dialogue. Menjadi salah satu panelis utama, Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dr. Ir. H. Didi Apriadi, M.Ak., M.H., menegaskan pentingnya strategi pengembangan industri yang selaras dengan prinsip Eco Ombudsman Course.
Didi menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi kunci agar Proyek Strategis Nasional (PSN) dapat berjalan lancar, aman, serta bebas dari praktik maladministrasi tanpa mengabaikan perlindungan hak masyarakat terdampak.
Untuk memastikan proyek di Jawa Timur bersifat bankable (layak didanai) dan investable (menarik bagi investor), Didi memetakan beberapa sektor prioritas masa depan. Sektor-sektor unggulan tersebut meliputi energi terbarukan generasi baru (Next-Gen Renewable Energy), hilirisasi industri, ketahanan pangan, semikonduktor, ekonomi digital dan pusat data (data center), manufaktur berorientasi ekspor, hingga pengembangan pendidikan vokasi.


