Jakarta | economicnews.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyayangkan kinerja bank syariah di Indonesia yang dinilai masih mahal dan belum sepenuhnya menerapkan prinsip ekonomi Islam. Kritik ini dikemukakan saat menjadi pembicara utama dalam forum ekonomi syariah di Jakarta, Rabu (18/2).

Menkeu menyoroti besaran biaya layanan bank syariah yang dinilai justru cenderung lebih mahal dibandingkan perbankan konvensional, sehingga belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bahkan Purbaya mengungkap, praktikbank syariah selama ini bertolak belakang dengan tujuan ekonomi syariah yang seharusnya adil dan efisien.

“Bank syariah saat ini masih sebatas mengganti istilah seperti riba dengan terminologi lain, tanpa menjalankan esensi syariah yang mendukung aktivitas produktif. Indonesia dengan populasi Muslim terbesar seharusnya bisa menjadi pusat ekonomi syariah global, namun pelaksanaan di sektor keuangan masih tertinggal,’’ ujar Menkeu, di Hotel Tribrata Jakarta, Rabu, (18/2/26)

Purbaya memberi komparasi perbandingan dengan perbankan Jerman yang menerapkan prinsip serupa dengan biaya rendah dan fokus pada keberlanjutan ekonomi.

“Bandingkan dengan prinsip ekonomi serupa dengan perbankan Jerman, setidaknya mereka bisa lebih lowcost. Ekonomi syariahkita harus menjadi bagian strategi pembangunan nasional, sejajar dengan ekonomi hijau dan digital,’’ tegas Purbaya.

Kritik Purbaya ini memicu tanggapan dari berbagai pihak, salah satunya dari Muhammadiyah yang berharap agar dana pemerintah dikhususkan ke bank syariah untuk menekan biaya.